Ustadz Abdul Somad (UAS): Islam Selalu Sediakan Alternatif Atas Suatu Persoalan

21

Islami.Net – Ustadz Abdul Somad (UAS) menyoroti penerapan era new normal yang saat ini diterapkan di Indonesia, salah satunya imbauan jarak sosial (social distancing) yang juga berlaku dalam pelaksanaan shalat berjamaah. 

UAS mengatakan, dalam ilmu fiqh, dijelaskan anjuran meluruskan dan merapatkan shaf shalat adalah salah satu bagian kesempurnaan shalat.

Pemilihan kata ‘bagian dari kesempurnaan shalat’. menurut dia, membuktikan Islam adalah agama yang hebat dan futuristik.

Penerapan shalat berjarak, juga seharusnya, kata UAS, tidak menjadi masalah besar karena anjuran merapatkan dan meluruskan shalat hanya berupa bagian dari syarat kesempurnaan, bukan syarat sah shalat.

“Nabi menyerukan untuk meluruskan dan merapatkan shaf shalat karena itu adalah bagian dari kesempurnaan shalat. Seandainya Rasulullah berkata meluruskan dan merapatkan shaf adalah bagian dari sahnya shalat, maka betapa akan bertentangannya ajaran Islam dengan keadaan sekarang,” ujar UAS dalam pengajian virtual PRM Pondok Labu, Ahad (14/6).

“Tapi hari ini nampaklah bahwa pemilihan kata yang diucapkan Nabi itu benar datang dari Allah SWT, karena lurus dan rapatnya shaf adalah syarat kesempurnaan, bukan syarat sah atau tidaknya shalat. Maka jika kini kita terapkan shalat dengan jarak, maka shalat kita tetap sah,” jelasnya.

Hal serupa juga berlaku pada hukum bersalaman. UAS menjelaskan, Islam tidak mewajibkan umatnya bersalaman. Sebaliknya, bersalaman adalah sebuah anjuran untuk meningkatkan tali persaudaraan sesama Muslim.

“Tidak ada rukun dalam Islam yang mewajibkan bersalaman karena Islam memiliki tingkatan hukum, yaitu rukun, syarat, dan wajib. Sedangkan salaman tidak termasuk dalam ketiganya, melainkan hanya sebuah anjuran,” ujarnya yang baru saja mendapatkan gelar PhD di Sudan itu.

UAS mengatakan, dengan adanya pendemi Covid-19, Allah SWT seolah menunjukkan kebenaran status Rasulullah SAW sebagai utusan yang membawa agama ciptaan-Nya, bukan hanya manusia yang mengaku-aku sebagai Nabi dan mengarang sendiri ajaran yang dibawanya. Wabah sejenis ini, kata UAS, juga pernah terjadi pada masa Rasulullah, dimana Rasulullah telah mengeluarkan larangan untuk keluar atau masuk ke wilayah yang terjangkit wabah.

“Oleh sebab itu, ketika Rasullah mengatakan, ‘jika ada suatu wabah di suatu negeri maka jangan kau datang ke negeri itu, dan mereka yang ada di dalam negeri yang didalamnya terserang wabah penyakit, maka mereka dilarang keluar’. Atau kini kita menyebut peraturan itu dengan nama lockdown, yang sebenarnya sudah pernah terjadi dan diceritakan oleh Rasulullah,” ujar dai lulusan Mesir itu.

Begitu pula dengan ajaran mencuci tangan. UAS menyatakan tidak ada umat di dunia ini yang lebih rajin mencuci tangan selain umat Nabi Muhammad SAW. Hal ini merujuk pada anjuran Rasulullah untuk senantiasa menjaga kebersihan tangan bahkan sejak bangun tidur.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Jika kamu bangun tidur, janganlah kau memasukkan tanganmu ke dalam bejana (wadah) sebelum (tangan) dicuci tiga kali.” (HR Muslim).

Dia juga mengingatkan tidak ada harga mati dalam hukum Islam. Dia juga mengingatkan, jika terdapat kendala dalam melakukan suatu ibadah, maka sesungguhnya Allah SWT selalu menyediakan cara-cara alternatif yang dapat menjadi jalan keluar dari setiap persoalan tersebut.

“Tidak ada harga mati, semua bisa ditawar. tidak ada yang final, semuanya semifinal. Jika tidak bisa bertemu langsung, maka bisa dengan virtual, dan semuanya bisa terlaksana dengan baik. Oleh sebab adanya pendemi ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa Islam tidak bertentangan dengan pembaharuan dan peradaban. dan bagaimana kita pasti mampu mengisi era new normal ini dengan kegiatan yang bermartabat,” ujarnya.

Promot Content

You might also like
close